Sejarah CIREBON
Menurut
Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah
Babad Tanah Sunda dan
Atja pada naskah
Carita Purwaka Caruban Nagari,
Cirebon
pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng
Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan
diberi nama
Caruban (
Bahasa Sunda:
campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam
suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang
berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat
adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan
rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis,
dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (
belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan
cai-rebon (Bahasa Sunda:, air rebon) yang kemudian menjadi
Cirebon.
[5]
Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari
pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah
satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan
pelayaran dan perdagangan di kepulauan
Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Perkembangan awal
Ki Gedeng Tapa
Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati)
adalah seorang Mangkubumi dari Kerajaan Sing Apura (Kerajaan ini
ditugasi mengatur pelabuhan Muarajati, Cirebon setelah tidak adanya
penerus tahta di kerajaan tetangganya yaitu Surantaka setelah anak
perempuan penguasanya yaitu
Nyi Ambet Kasih menikah dengan Jayadewata (prabu Silih Wangi) ).
Pada masa kedatangan pangeran Walangsungsang dan
nyimas Rara Santang ke Cirebon untuk memperdalam agama
Islam, pangeran Walangsungsang kemudian membangun sebuah tempat tinggal yang disebut
Gedong Witana pada tahun 1428 Masehi.
[6] yang sekarang menjadi bagian dari kompleks
keraton Kanoman,
kesultanan Kanoman, setelah mendapatkan pengajaran agama yang cukup, pangeran Walangsungsang dan
nyimas Rara Santang kemudian menunaikan ibadah
haji ke
Mekah, disana
nyimas Rara Santang menemukan jodohnya yaitu seorang pembesar Arab dan menikah sehingga
nyimas tidak ikut kembali ke
Cirebon. Sepulangnya dari melaksanakan
haji
pangeran Walangsungsang diminta oleh gurunya untuk membuka lahan guna
membuat perkampungan baru sebagai cikal-bakal negeri yang ia
cita-citakan, setelah memilih dari beberapa tempat akhirnya diputuskan
perkampungan baru tersebut akan dibangun di wilayah Kebon Pesisir.
Ki Gedeng Alang-Alang
Menurut sejarah lisan dan sebagian babad mengenai masalah ini,
dikatakan bahwa Pengeran Walangsungsang diperintahkan oleh gurunya Syekh
Datuk Kahfi (Nur Jati) untuk membuka lahan di wilayah Kebon Pesisir,
namun dikatakan bahwa di Kebon Pesisir tidak sepenuhnya kosong karena
sudah ada sepasang suami istri yaitu Ki Danusela dan istrinya yang
tinggal disana, akhirnya sebagai bentuk penghormatan maka
Kuwu
(Kepala Desa) Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru
itu adalah Ki Danusela dengan gelar Ki Gedeng Alang-alang, sebagai
Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu
putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang
tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng
Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi
diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar
Pangeran Cakrabuana.
[butuh rujukan]
Pendirian
Pangeran Cakrabuana dan Dalem Agung Pakungwati (1430- 1479)
Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri
Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang pertamanya bernama
Subanglarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Raden Walangsungsang, ia mempunyai
dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Rara Santang dan Raden Kian
Santang.
Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai
putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia
memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang - ibunya), sementara
saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda
Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya
digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu
Siliwangi dari istrinya yang kedua Nyai Cantring Manikmayang.
[butuh rujukan]
Pangeran Walangsungsang lalu membuat sebuah pedukuhan di Kebon Pesisir, membangun
Kuta Kosod (susunan tembok bata merah tanpa spasi) mendirikan
Dalem Agung Pakungwati serta dan membentuk pemerintahan di Cirebon pada tahun 1430 M
[1][2][3][4]
. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan
Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran
Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji
Abdullah Iman, tampil sebagai "raja" Cirebon pertama yang memerintah
dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada
penduduk Cirebon.
[butuh rujukan]
Pendirian kesultanan ini sangat berkaitan erat dengan keberadaan
Kesultanan Demak.
Sunan Gunung Jati (1479-1568)
Lukisan Sunan Gunung Jati
Pada tahun 1478 diadakan sebuah musyawarah para wali di
kabupaten Tuban,
Jawa Timur untuk mencari pengganti
Sunan Ampel sebagai pimpinan para wali, akhirnya terpilihlah Syarif Hidayatullah (
Sunan Gunung Jati), sejak saat itu, pusat kegiatan para wali dipindahkan ke gunung Sembung,
kecamatan Gunung Jati,
kabupaten Cirebon,
propinsi Jawa Barat. Pusat kegiatan keagaamaan ini kemudian disebut sebagai
Puser Bumi (bahasa Indonesia : pusatnya dunia)
[7]
Pada tahun 1479 M, kedudukan pangeran Walangsungsang sebagai penguasa
Cirebon kemudian digantikan putra adiknya yakni Syarif Hidayatullah (anak dari pernikahan
Nyai Rarasantang dengan Syarif Abdullah dari
Mesir) yang sebelumnya menikahi
Nyimas Pakungwati (putri dari Pangeran Walangsungsang dan
Nyai Indang Geulis) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan
Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai
Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.
[8]
Syarif Hidayatullah melalui lembaga
Wali Sanga selalu mendekati kakeknya yakni Jaya Dewata (prabu
Silih Wangi) agar berkenan memeluk agama Islam seperti halnya neneknya
Nyai Subang Larang yang memang sudah lama menjadi seorang
muslim jauh sebelum menikah dengan prabu
Silih Wangi,
namun hal tersebut tidak membuahkan hasil, pada tahun 1482 (pada saat
kekuasaan kerajaan Galuh dan Sunda sudah menjadi satu kembali ditangan
prabu
Silih Wangi), seperti yang tertuang dalam naskah
Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Carbon.
| “ |
Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala.
(bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijriah) |
” |
Pada tanggal 12 Shafar 887 Hijriah atau tepatnya pada tanggal 2 April
1482 masehi, akhirnya Syarif Hidayatullah membuat maklumat yang
ditujukan kepada prabu
Silih Wangi selaku Raja Pakuan Pajajaran bahwa mulai saat itu Cirebon tidak akan lagi mengirimkan upeti
[7][8]. Maklumat tersebut kemudian diikuti oleh para pembesar di wilayah Cirebon (
bahasa Cirebon :
gegeden).
Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau
Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai leluhur dari dinasti raja-raja kesultanan Cirebon dan
kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti
Majalengka,
Kuningan,
Kawali (Galuh),
Sunda Kelapa, dan
Banten.
[9]
Fatahillah (1568-1570)
Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan
pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah,
pemerintahan dijabat oleh
Fatahillah
atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah
Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki
takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal
dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan
dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem
Astana Gunung Sembung.
[butuh rujukan]
Panembahan Ratu I (1570-1649)
Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak
menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu
Pangeran Mas, putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan
Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan
memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.
[butuh rujukan]
Pada masa pemerintahan Pangeran Mas Zainul Arifin ini dikatakan bahwa
keraton Mataram mulai dibangun disekitar kali Opak dan kali Progo pada
tahun 1578 oleh Ki Ageng Pamanahan, namun beberapa tahun kemudian dia
wafat, tepatnya pada tahun 1584 sehingga kepemimpinan di keratonnya
dilanjutkan oleh puteranya yang bernama
Danang Sutawijaya, beberapa tahun setelah meninggalnya Ki Ageng Pamanahan, Sultan Hadiwijaya dari kerajaan
Pajang (sekarang wilayahnya diperkirakan meliputi wilayah kekuasaan
Kasunanan Surakarta dan
Mangkunegara) pun meninggal, tepatnya pada tahun 1587, pada saat meninggalnya Sultan
Pajang,
Danang Sutawijaya yang selama ini tidak suka menghadap Sultan Pajang akhirnya datang juga untuk menghadiri upacara pemakaman Sultan.
[10] Pada masa pemerintahannya,
Danang Sutawijaya melakukan perluasan wilayahnya ;
- Pajang dijadikan kadipaten, dan Pangeran Benawa (putera dari Sultan Hadiwijaya) dijadikan sebagai pemimpin Kadipaten Pajang
- Demak berhasil dikuasai dan kemudian dia menempatkan seseorang dari wilayah Yuwana
- Kedu dan Bagelen (sebelah barat pegunungan menoreh) juga berhasil dikuasai
- Madiun mengakui kekuasaan Mataram pada tahun 1590
- Surabaya berhasil dikuasi
- Kediri berhasil dikuasi
- Priyangan sebelah timur berhasil dikuasai
Persahabatan dengan Mataram dan dibangunnya Benteng Kuta Cirebon
Pada masa perluasan dan penaklukan wilayah yang dilakukan kerajaan
Mataram oleh
Danang Sutawijaya,
Mataram juga menjalin kedekatan dengan kesultanan Cirebon, namun
hubungan yang dimaksud bukan dihasilkan dari sebuah penaklukan melainkan
dari persahabatan.
[11]
Benteng Kuta Raja Cirebon yang dalam Naskah Kacirebonan disebut sebagai
Benteng Seroja diyakini pembangunannya mendapatkan bantuan dari
Danang Sutawijaya Raja
Mataram.
| “ |
Waktu
semono maksi akikib, Kuta Cirebon masih Sinaroja, Adi wuku sakubenge,
Tan ana Durga ngaru, Kadi gelare kang rumihin, Jawa gunung kapurba,
Katitiha ngulun, Sira koli tiwa-tiwa, Nagara gung Mataram pon anglilani,
Ing Crebon yen gawea
Taktkala itu masih tertutup, Kuta Cirebon masih utuh dibangun pagar
sekelilingnya, benteng itu tidak ada yang mengganggu, seperti jaman
dahulu kala pulau Jawa yang dibentengi oleh gunung-gunung, demikian juga
dengan Cirebon, maka negara agung Mataram pun merestui (membantu) proyek yang sedang dikerjakan Cirebon (membuat benteng Kuta Cirebon) |
” |
Benteng Kuta Raja Cirebon diperkirakan telah dibangun sebelum tahun
1596, dikarenakan benteng tersebut diceritakan pada pelayaran pertama
bangsa Belanda pada tahun 1596
[12]
dan tiga tahun setelah ditandatanganinya perjanjian persahabatan yang
sebenarnya adalah perjanjian monopoli dagang Belanda terhadap Cirebon
pada tahun 1681 benteng tersebut masih dapat dikenali.
Panembahan Ratu II (1649-1666)
Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649,
pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama
Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu
Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih
dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum
yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan
Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.
[butuh rujukan]
Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua
kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram.
Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram
(Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak
merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri,
karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah
sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya
Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya
dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.
[butuh rujukan]
Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari
Kesultanan Mataram. Makamnya di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat
dengan makam raja raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Menurut
beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya, tinggi makam Panembahan
Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.
[butuh rujukan]
Perwalian oleh Pengeran Wangsakerta
Pada saat Pangeran Girilaya dan kedua anaknya dipanggil ke Mataram
namun ternyata tidak kunjung kembali, Cirebon mengalami perguncangan
karena tidak adanya pemimpin di kesultanan Cirebon, dikarenakan hanya
pangeran Wangsakerta yang ada berada di kesultanan Cirebon
[13] keluarga akhirnya menyetujui pangeran Wangsakerta menjadi
Wali sampai kembalinya ayahnya pangeran Girilaya dari Mataram.
sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Cirebon#Sejarah